Tuhan perlu satpam?

wajibbacadotcom

Dua hari (12 & 13 Juni 2016) berturut-turut saya memposting dua informasi  yang hampir senada di laman facebook saya. Postingan perama adalah opini Sumanto Al Qurtuby – seperti dicopykan di bawah ini dan yang satunya lagi adalah viral yang bersumber dari pemberitaan Kompas TV tentang razia pedagang warteg di Serang, Banten, seperti foto di atas tersebut.

Penyakit Tahunan Umat Islam [Sumanto Al Qurtuby]

Setiap bulan puasa, sejumlah kelompok dan umat Islam (sejumlah lo ya, gak semuanya, nanti ada yang menuduh lagi saya anti Islam dan kaum Muslim) di Indonesia selalu saja ada yang melakukan berbagai tindakan arogan, anarkis, ngamuk, mau menangnya sendiri, betul-betul memuakkan dan memalukan.

Yang rutin mereka lakukan setiap tahun di bulan puasa misalnya, “sweeping” warung-warung yang buka di siang hari, ngobrak-abrik tempat-tempat yang mereka anggap “sarang maksiat”, kemudian khotbah dimana-mana pletar-pletor kayak petasan minta semua orang, khususnya non-Muslim, untuk menghormati kaum Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa dengan cara tidak makan-minum di hadapan orang-orang yang berpuasa atau menutup warung makan di siang bolong. Inilah yang saya maksud dengan “penyakit kambuhan tahunan” (sebagian) umat Islam.

Dengan berlagak seperti “satpam Tuhan”, mereka tidak sungkan-sungkan membentak-bentak orang lain atau bahkan melakukan kekerasan terhadap orang/kelompok lain yang menurut mereka tidak “menghormati” bulan Ramadan. Bukankah tindakan ini seperti “anak-anak” balita yang merengek-rengek minta diperhatiin orang tuanya? Atau, barang kali, seperti “Tuan Takur” dalam film India itu atau “tuan-tuan” lain yang “gila hormat”? Apakah kira-kira Tuhan bangga dengan kelakuan arogan mereka?

Jika kita dengan mudahnya minta umat agama lain untuk menghormati ibadah-ritual kita, apakah kita juga sudah melakukan hal yang sama: menghormati ibadah-ritual umat agama lain? Jika kita ingin dihormati orang lain, maka kita juga harus menghormati orang lain. Jika kita merasa sakit karena tidak dihormati orang lain, maka begitulah umat lain juga akan merasakan sakit jika kita tidak menghormati dan bahkan mengolok-olok mereka.

Puasa bukan hanya menahan makan-minum tapi juga menahan hawa nafsu, termasuk nafsu amarah dan mau menangnya sendiri. Tuhan tidak butuh “satpam” atau “satpol PP”. Jangankan masalah puasa, soal keimanan dan kekafiran orang saja, Tuhan santai banget. Manusia saja yang ribut.

Akhirul kalam, jika kita minta orang yang tidak berpuasa untuk menghormati orang yang berpuasa, maka kita yang berpuasa juga harus menghormati mereka yang tidak berpuasa. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang berpuasa, dan selamat menikmati makan-minum seperti biasa bagi yang tidak berpuasa.

Tulisan Sumanto lebih mengarah kepada sweeping di bulan Ramadan yang kerap dilakukan segelintir kelompok organisasi (yang mengaku beragama) Islam garis keras, sementara liputan Kompas TV mengenai razia berlebihan yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Serang, Banten. Berlebihan karena saat melaksanakan razia di warteg milik ibu Saeni, para satpol PP tersebut menyita seluruh makanan yang dijualnya. Dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dibawanya pergi. Banyak yang mempertanyakan, dibawa kemana makanan sitaan tersebut. Rata-rata memberikan komentar sinis, makanan hasil sitaan di warteg milik ibu Saeni tersebut digunakan untuk mereka – para Satpol PP untuk berbuka puasa disore harinya, wallahualam bisshowab.

Komentar saya untuk hal itu, “beberapa masih berperilaku begini … ‘bersumbu pendek’ kata sohib karib ane sih – cepet tersulut… cuma yang aneh, yg begini yakin banget masuk surga … dan biasa … yang lain bagiannye ke nerake, itu katenye ye hehehe. Kalo maksud baik cara salah, bener ga tuh kira2 ya 😉

Sementara untuk liputan Kompas TV, komentar saya,”miris … speechless deh … utk yang setuju dengan tindakan seperti ini, check your heart & mind please ;P”

Banyak yang tidak setuju, miris, kecewa dan speechless-lah melihat arogansi-arogansi seperti itu, yang memalukan, yang menyesakkan dada.

Alih-alih mengatasnamakan agama (Islam), tapi perbuatannya justru bertentangan dengan agama.

Saya pernah melihat liputan sweeping ini,  teriak-teriak, marah-marah ditengah jalan kemudian menggebrak-gebrak warung-warung tersebut, persis seperti manusia menggebrak-gebrak tikus yang sedang dalam persembunyian supaya keluar. Menakutkan sekali.

Padahal mereka mengenakan atribut keagamaan, rata-rata bersorban, berjubah, berjenggot dan bercelana cingkrang. Mereka menandakan dirinya adalah muslim – beragama Islam. Tapi perbuatannya?

Apa Islam mengajarkan begitu? Tidak bisakah dilakukan dengan cara yang lemah lembut, santun dan beradab? Ini yang ditekankan dalam pengajaran Islam. Sayang mereka melakukan hanya berdasarkan persepsinya saja.

Sebagai muslim yang tinggal di Indonesia, ada pula prosedur yang bisa ditempuh. Melaporkan melalui jalur hukum maupun pihak-pihak yang lebih berwenang menangani hal ini. Bukan begitu?

Yang berseragampun, Satpol PP, tidak kalah mengkhawatirkannya. Seperti terlihat pada liputan di Kompas TV seperti foto terlampir di atas, cukup sadis pula. Walau tidak kasar, tetapi mereka menyita semua makanan yang ada di warung tersebut. Terlihat di layar, si ibu sedih karena semua jualannya lenyap, semua modal berdagangnya hilang ditelan Satpol PP. Entah akan dikemanakan makanan jualan si ibu tersebut. Entahlah.

Banyak yang miris melihat fenomena di atas, namun ada sedikit juga yang membenarkan. Alasannya mengikuti perda yang telah adalah, menghormati yang berpuasalah, mencegah kekufuranlah, karena kalau seorang muslim tidak ada halangan apapun, sehat wal afiat, dan mereka tidak melaksanakan puasa Ramadan maka mereka bukanlah seorang muslim.

Pernyataan itu absurd. Kalau menurutnya mereka, dengan tidak berpuasa seperti itu sudah menjadi tidak muslim, bukankah mereka sudah boleh makan-minum sesukanya? Lalu mengapa harus di razia? Logika yang keblinger.

Pertanyaan besar saya, apakah Tuhan Allah SWT memerlukan segala tetek bengek razia itu?

Dan apakah Allah SWT memberikan wewenangNya kepada mereka untuk melaksanakan razia itu?

Melihat razia yang dilakukan seperti itu, nampak beragama itu (Islam) menyulitkan, menakutkan, mencengkam, kejam, tanpa belas kasihan, cinta kemubaziran (penyitaan makanan), penuh dengan kekerasan, tidak santun, tidak berperi-kemanusiaan, dan sejenisnya.

… Manusialah yang terlalu sering membuat Tuhan terlalu kejam … ungkapan seperti ini yang saya rasa cukup mewakili kejadian razia tersebut.

Kita tidak mendapatkan nilai pembelajaran apapun kecuali malah memburukkan nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai keagamaan, khususnya Islam dan kaum muslim.

Allah sendiri sudah tegas menyatakan seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.

Puasa hanya untuk Allah SWT dan Ia sendiri yang akan membalasnya. Seorang muslim, apakah ia akan berpuasa atau tidak, apakah ia berpuasa bohong-bohongan atau serius, tentu tidak akan luput dari perhatian dan kewenangan Allah. Biarlah itu terjadi seperti itu.

Yang melakukan razia tidak akan berarti apa-apa, karena Allah yang akan membalasnya. Kita mahfum kan akan keadilan balasan Allah ini.

Lagian, kewenangan kalian merazia itu apakah sudah yakin akan mendapatkan stempel legalitas persetujuan dari yang memerintahkan puasa itu sendiri, yaitu Allah SWT? Jangan-jangan malah sebaliknya.

Allah mungkin sedang tersenyum-senyum saja melihat mereka yang berperilaku bodoh tersebut menyerupai seolah-olah sedang menjadi ‘satpam-satpam’ (illegal)Nya.

Munculnya ‘satpam-satpam’ itu justru kontra produktif, karena meredusir kekuasaan Allah SWT yang Maha Kuasa itu. Wong dengan berkata jadilah maka jadilah ko.

Kalaupun ngebet ingin merasa menjadi ‘satpam’Nya, cobalah pakai cara-cara yang diajarkanNya, bukan sebaliknya. Contoh di atas justru menodai kesucian bulan Ramadan. Perlu ada penjelasan pula dikemanakan makanan sitaan tersebut. Jika dibuang, memang sudah sangat keblinger dan merusak/menodai kesucian bulan Ramadan.

Karena Allah sejatinya tidak memerlukan satpam.

Dalam bulan Ramadan ini seharusnya terjadi saling menghormati: Menghormati kesucian bulan Ramadan dan menghormati yang berpuasa maupun yang tidak berpuasa.

Selamat menjalankan ibadah puasa …..

13 Juni 2016

@Kangbugi

[Sumber foto: wajibbaca.com; sumber video: Kompas TV]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s