Wearing Hijab to respect your God – Berhijablah untuk menghormati Tuhanmu

two women wearing hijab
two women wearing hijab

Allah, God, He is not crazy of respect (snobby), He is not crazy of rank, He is extremely Rich, He does not need anything from us, from His servants. He has created man and the universe to the nature without expecting the return. In terms of worshipping to the Creator, it gives humans to obey His commands, the command of God.

Wearing hijab is one of His command to women who have gone through puberty. Wearing hijab is not derived from culture not from tradition, not from habit that lasts from generation to generation but solely God’s command.

For the benefit of whom? Certainly, it is for the sake of the women themselves. as I mentioned above, not for the sake of Allah. Women wear hijab or not, has nothing to do with profit or loss against God. His Command for wearing hijab, instead, means of protection, respecting of God’s authority provided for women.

Hijab means women who are already using the ‘facility’ of God, which would (in a positive correlation) have a positive impact for women in particular.

About know how of hijab’s models are not specifically regulated. It was only given the general guideline only. Therefore, the hijab phenomenon is influenced by emerging fashion trends when it becomes a thing that can not be avoided. Also because women’s hijab is not uniform so that the form does not need to be as uniform, it can vary according to the origin meaning of aurat, i.e. pa:rt of the body which may not be visible while performing a ritual or in front of the opposite sex (not muhrim).

Even this phenomenon has the potential of causing misunderstanding in creating fashion for hijab. A trend of jilboob (s) recently shows that kind of situation. The important thing to be considered is the importance of meeting the recommended provisions, that it seems already fulfil the criteria to close aurat but blenakblenuk’ here and there.

Hijab, once again, is the command of God for the good of women primarily. Therefore, for those of you who want to wear hijab or veil, it is significant to prioritize your intentions when you are wearing the hijab in order to process your servitude to the command giver, not because the husband carrying out orders, orders from superiors or due to meet the needs of current fashion trends. Wearing hijab solely need to be considered as one of women’s effort to worship God. Under this awareness of serving God, the fashion consideration can meet God’s terms and conditions.

Allah, Tuhan, tidak gila hormat, tidak gila pangkat, Ia Maha Kaya, tidak memerlukan apa-apa dari kita, dari hambaNya. Ia telah menciptakan manusia dan alam semesta dengan sifat keMaha Ikhlasannya. Bentuk penyembahan manusia kepada Sang Penciptanya diberikan kepada manusia sebagai upaya menuruti perintahNya, perintah Allah, menyembah kepada yang telah menciptakannya

Menggunakan hijab adalah salah satu perintahNya kepada kaum perempuan yang telah memasuki masa akil balig. Menggunakan hijab bukan berasal dari proses budaya, bukan berasal dari tradisi, bukan berasal dari kebiasaan yang berlangsung turun temurun tapi semata-mata perintah Allah.

Untuk kepentingan siapa? Ya untuk kepentingan kaum perempuan itu sendiri. seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bukan untuk kepentingan Allah. Kaum perempuan hendak berhijab atau tidak, tidak ada urusannya dengan keuntungan atau kerugian terhadap Allah. Perintah berhijab, malah, bermakna sarana perlindungan, pemuliaan, penghormatan atas kewibawaan yang disediakan Allah bagi kaum perempuan.

Berhijab berarti kaum perempuan menggunakan fasilitas pilihan yang sudah Allah sediakan bagi mereka, yang akan (dalam korelasi positif) memberikan dampak positif bagi kaum perempuan khususnya.

Soal cara dan model penggunaan hijab memang tidak diatur secara spesifik hanya diberikan garis besarnya saja. Karena itu, fenomena hijab terpengaruh oleh tren mode yang sedang berkembang saat itu menjadi suatu hal yang tidak dapat dihindarkan. Juga karena hijab bukan seragam perempuan sehingga bentuk tidak perlu seragam, dapat bervariasi asal sesuai dengan garis besar yang diperintahkan, yaitu menutup aurat.

Fenomena inipun berpotensi menimbulkan kesalah pahaman dalam implementasi mode hijab yang diciptakan. Tren jilboob(s) belakangan ini yang menyeruak di masyarakat menunjukkan hal ini. Yang penting sudah (dianggap) tertutup, sudah cukup memenuhi ketentuan yang dianjurkan, tanpa mengindahkan bahwa walau tertutup, tetapi ‘blenak-blenuk’ di sana-sini.

Berhijab, sekali lagi, adalah perintah Allah untuk utamanya adalah kebaikan kaum perempuan. Untuk itu, bagi anda yang berhijab atau yang ingin mengenakan hijab, utamakan niat anda pada saat anda mengenakan hijab adalah dalam rangka proses penghambaan anda terhadap Sang Pemberi Perintah itu, bukan karena melaksanakan perintah suami, perintah atasan atau karena kebutuhan memenuhi mode yang sedang tren. Semata-mata agar berhijabnya kaum perempuan itu masuk dalam kategori beribadah. Dengan kesadaran proses penghambaan yang didahulukan, maka pertimbangan kepentingan mode menjadi nomer yang kesekian dan kaum perempuan dapat berhijab memenuhi syarat dan ketentuan yang telah diperintahkan oleh Sang Pemberi Perintah.

@kangbugi

(source of cartoon above, taken from http://www.pinterest.com)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s