Riya, just be careful of it – hati-hati berlaku riya

worshiping God
worshiping God

Inspired by this entertaining facebook status:

Thank God, today I finished my fasting already, already shalat tarawih as well, just finished read one juz of Quran, I have been doing sunnah prayers properly, I donated to mosques and I also gave beggar  an extra money, I have done I’tikaf in this recent week. Alhamdulillah, reward from my good deeds that had been collected will be lost soon after I post this facebook  status.

A satirical status though. But it is quite striking and many people are predicted doing it, even it is unlikely not exactly the same (so many examples out there).

Because of this type of status:

we did not suppose to know of what he has been doing, but the status revealed.

we did not suppose to know of his Tarawih prayer activity, but the status revealed.

we did not suppose to know of he was reading Koran, but the status revealed.

we did not suppose to know of he undertook sunnah prayer, but the status revealed.

we did not suppose to know of he gave his charity to the poor, but the status revealed. 

we did not suppose to know of he was doing I’tikaf, but the status revealed.

However, the above status was ended by a sweet advice that such behavior has the potential to reduce or even eliminate our rewards/good deed/pahala as it can be categorized as an act of Riya.

Is that It? Wallahu alam .

To answer that, let’s look at the following brief explanation.

Understanding Riya, as it is interpreted as a practice / good deeds and worship with the intention to attract other people attention, not for God. On the other words, Riya can also be assumed as the worship processes towards other people recognition. While Imam AlGhazali defines Riya as an effort to find the position in worship as a show off worship towards other people attention (not the worship towards God). 

Let us be very smart in terms of ‘publishing’ our prayer activities in social media to avoid from Riya.  Let God alone as the assessor of our worship, not fellow human beings.

————

Terinspirasi dari status facebook yang menghibur ini:

“Alhamdulillah hari ini, puasa sudah, tarawih sudah, baca Quran satu juz selesai, sholat sunnah ga ada yang tertinggl, tadi sudah sedekah di masjid, eh ada peminta-minta sudah juga ngasih, I’tikaf juga khusu banget semalem. Alhamdulillah juga, pahala yang tadi sudah terkumpul, jadi hilang deh semua selesai saya memposting status ini … ;-)”

Sebuah status yang bersifat sindiran. Tapi cukup mengena dan banyak yang melakukan itu, walau tidak persis sama.

Karena status seperti itu:

kita yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu bahwa orang ini baru saja menjalankan ibadah puasa.

kita yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu bahwa orang ini melaksanakan shalat tarawih.

kita yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu bahwa orang ini telah membaca Quran hingga satu juz.

kita yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu bahwa orang ini menyempatkan menjalankan shalat sunnah.

kita yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu bahwa orang ini juga bersedekah dan memberi santunan untuk fakir miskin.

kita yang tadinya tidak tahu, menjadi tahu bahwa orang ini ternyata, juga, melakukan ibadah i’tikaf (suatu aktivitas religius yang sangat berat).

Namun, status tersebut ditutup dengan nasehat yang manis, bahwa perilaku demikian berpotensi mengurangi bahkan menghilangkan pahala-pahala kita – karena dapat dikategorikan sebagai suatu perbuatan riya.

Memang demikiankah? Wallahu alam.

Untuk menjawabnya, coba kita lihat sedikit penjelasan berikut ini.

Pengertian Riya, secara bahasa, dapat diartikan sebagai suatu amalan/amal kebaikan maupun ibadah dengan niat dalam hati adalah karena/demi manusia, bukan karena Allah SWT, atau dapat pula dikatakan sebagai menampakkan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu mereka memuji pelaku amalan itu. Sementara Imam Al-Ghazali mendefinisikannya sebagai upaya mencari kedudukan di hati manusia dengan memperlihatkan kepada mereka hal-hal kebaikan.

Yuk kita lebih pandai-pandai didalam mem-‘publikasikan’ ibadah yang kita laksanakan, agar tidak tergolong perbuatan Riya yang dapat menghilangkan pahala-pahala didalamnya. Biarkan Allah semata sebagai penilai ibadah-ibadah kita, bukan sesama manusia.

(sumber foto: drise-online.com)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s