We need God, not the opposite (Kita memerlukan Tuhan, bukan sebaliknya)

He is Extremely Rich, He is the Owner of Great Bounty, Mastering the whole world and universe, including our body, soul, our thoughts, or in the popular term is, i.e. body, mind and spirit or soul.

Ia Maha Kaya, Ia Maha Memiliki, Ia Maha Menguasai dan Ialah Sang Pemilik jagad raya ini, alam semesta ini, termasuk raga, jiwa kita, dan termasuk pikiran kita, atau istilah yang sedang ngetrend belakangan ini adalah body, mind and spirit or soul.

He is the Lord of this universe, He certainly legitimates to do whatever He wants to His various creatures. As an analogy to take it to our human nature, what we used to do to everything that we ‘create’. For example, if we make crafts out of clay. Once the object is created, we are free to do what we want to our creations. We want to save it in a safe place, we want to give it to others, or we want to destroy because we do not like it anymore. Now try to use this concept to the Power of God has. What can He do with his creation, of course depending on His will.

Ia semata-mata Sang Penguasa alam ini, tentulah sah-sah saja melakukan apapun yang Dia inginkan terhadap aneka ciptaanNya itu. Jika kita analogikan, jika kita bawa ke alam kemanusiaan kita, apa yang akan dan dapat kita lakukan terhadap sesuatu yang telah kita ‘ciptakan’. Misalnya kita membuat kerajinan tangan dari tanah liat. Setelah tercipta bendanya, kita bebas melakukan apa yang kita kehendaki terhadap hasil kreasi kita tersebut. Hendak kita simpan, mau kita kasihkan ke orang lain, atau kita hancurkan karena bentuknya kemudian tidak kita sukai. Sekarang kita bawa perumpamaan tadi kepada konteks KeMaha Kuasaan Tuhan. Apa yang dapat Ia lakukan terhadap ciptaanNya, tentu tergantung kehendakNya.

Apparently, in the context of His power of His Supreme’s, there is also a context to the Supreme Lord of Mercy, to the Supreme Merciful God, as contained in the 99 names of God which we have known it. The Most Merciful means that the Supreme Lord is devoted to ‘provide’ the best for His creation. It is a necessity. As He did in His word when He gave forgiveness to the first man, Adam AS, the first Messenger:

Then Adam received from his Lord Words. And his Lord pardoned him (accepted his repentance). Verily, He is the One Who forgives (accepts repentance), the Most Merciful. (QS 2:37)

Ternyata, dalam konteks keMaha KuasaanNya itu, terdapat pula konteks KeMahaKasihan Tuhan, KeMahaRahiman Tuhan, seperti tercantum dalam 99 nama-nama Tuhan yang sudah kita kenal itu. KeMahaRahiman Tuhan itu kemudian tercurah kepada ‘menyediakan’ hal-hal yang terbaik bagi ciptaan-ciptaanNya. Itu sudah suatu keniscayaan. Seperti yang Ia sampaikan dalam ucapanNya pada saat Ia memberikan ampunan kepada manusia pertama, Nabi Adam AS:

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang (QS 2: 37)

And He has tried to make His creation, humans, to be positioned in the good position, i.e.: to be His servants. A form that showed of the award of the Most Powerful God, from ‘nothing’ then become His servants – it means that there is still a relationship between the Creator with His creation.

Iapun telah berusaha menjadikan ciptaanNya, dalam hal ini manusia, naik peringkat, menjadi hambaNya. Suatu bentuk penghargaan yang Maha Baik, dari ‘nothing’ kemudian menjadi hambaNya – artinya masih ada relasi diantara Sang Pencipta dengan ciptaanNya.

In a concept as mentioned above, it would be appropriate if the man then wondered, i.e. what needs to be done to play role as His servant. As a thank you – as an expression of gratitude to the Creator – because we already were provided the opportunity to live, to feel His mercy.

Dalam konsep seperti tersebut di atas, menjadi pantas kiranya jika kemudian manusia itu bertanya-tanya, apa yang perlu dilakukan untuk berperanan sebagai hambaNya. Sebagai ucapan terima kasih, ungkapan rasa syukur terhadap sang Pencipta – karena kita telah diberiNya kesempatan untuk hidup, merasakan kasih sayangNya.

As a complement of His mercy for His creation so-called human, God equipped human through His messengers, namely religion, as a guidance, a good news, a difference (between the right and a false), as well as a warning, in the form of scriptures – a Holy Book. Because God wants His servants to survive in the world and beyond until the time to meet Him after the world is ended. God gave these instructions (Book) as complete Book,  a perfect Book. That He promises as it contained in the Holy Book Qur’an 5:3, i.e.:

…. This day, I have perfected your religion for you, completed My Favour upon you, and have chosen for you Islam as your religion.…..

Sebagai pelengkap kasih sayangNya untuk ciptaanNya yang bernama manusia itu, Tuhan melengkapinya dengan diturunkanNya agama melalui utusanNya, manusia pilihan yang telah ditunjuk untuk memberi kabar gembira, petunjuk, pembeda (antara yang hak dan yang bathil), sekaligus peringatan, yaitu berupa kitab suci. Karena Tuhan ingin hambaNya selamat untuk melampaui masa hidupnya di dunia dan selamat hingga sampai tiba waktunya bertemu sang Penciptanya setelah kehidupannya berakhir, Tuhan memberikan petunjuk tersebut selengkap-lengkapnya, sebaik-baiknya, sesempurna-sempurnanya. Itulah janjinya seperti tertuang dalam kitab suci QS 5: 3, yaitu:

…. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu. ….

So, what should we do? As His servants, who may use reasonable thoughts, surely we need to refer to the guidance that has been revelated that provided guidance. It is to survive human kind to receive salvation. Even it is an option for human being who have His trustworthiness to be a caliph in the earth as His caliphate. It is recommended to use common human thought by making the Holy Book and His messenger behavior as guidelines.

So, apa yang harus kita lakukan? Sebagai hambaNya, yang diperkenankan menggunakan akal pikirnya, tentu kita perlu merujuk pada guidance yang sudah diturunkanNya, pedoman yang telah diberikanNya, agar kita selamat. Keselamatan yang dijanjikan itu adalah sebuah pilihan untuk manusia-manusia yang telah dipercayaNya sebagai khalifah di muka bumi yang didalam menjalankan kekhalifahannya, manusia dianjurkan untuk menggunakan akal pikirnya dengan menjadikan kitab suci dan perilaku utusanNya sebagai pedomannya.

The Great Creator has given Hiers commands, His messenger have been confirmed about the examples that human requires, to gain salvation, which is only one Hiers commands, follow what has been poured in the Scripture. That’s it and you’ll be saved.

Sang Maha Pencipta telah memberikan titahNya, utusanNya telah menegaskannya tentang contoh-contoh yang diperlukan manusia,  untuk memperoleh keselamatan, dimana titahNya hanya satu, ikuti apa yang sudah dituangkanNya dalam kitab suci. That’s it and you’ll be saved.

However, even He explained his instructions already about the good news of salvation that people can choose, there are still many who do not know the good news or there are still many who already know but choose their own choice (ignorance) that have not been tested but is believed to have replaced His guidance.

Namun, begitu jelasnya petunjuk-petunjukNya tentang kabar gembira tentang keselamatan yang bisa manusia pilih, masih banyak yang tidak tahu akan kabar gembira ini, masih banyak yang sudah tahu tapi memilih sikap tidak tahu dan masih banyak pula yang sudah tahu bahkan memilih tidak mengindahkan pengetahuannya ini dan bahkan berpaling, kepada kabar lain, kepada cara lain yang belum teruji tetapi diyakini telah dapat menggantikan petunjuk-petunjukNya.

But that’s human, even other creatures sincerely chanting the praises and worship to God – by their way, Human prefers to follow his own desires, his thoughts and beliefs that limited him to follow His instructions, which is guaranteed to bring us to meet Him.

Tapi itulah manusia, bahkan makhluk lainpun dengan ikhlas melantunkan puja-puji dan menyembahNya – dengan caranya, lebih memilih mengikuti hawa nafsunya, jalan pikirannya yang terbatas itu dan keyakinan lainnya, dibandingkan memilih mengikuti petunjuk-petunjukNya, yang terjamin akan membawa kita untuk bertemu denganNya.

As The Lord stated in Quran 3:30

On the Day when every person will be confronted with all the good he has done, and all the evil he has done, he will wish that there were a great distance between him and his evil. And Allah warns you against Himself (His Punishment) and Allah is full of Kindness to the (His) slaves.

Tuhan berkata dalam hal ini seperti termaktub dalam QS 3:30

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

Only with His Great Blessing, human beings that do not follow nor does DELIBERATELY to choose to not follow Hiers commands, still overwhelmed by His Great Blessing, His Mercy to His creatures He had made, while given the opportunity to re-hear, re-thought His instructions of His guidance. If not, the LORD will not feel the loss, we are the ones who lose, because there is already the logical consequences of all choices.

Hanya dengan KeMahaRahimanNya juga lah, manusia-manusia yang tidak mengikuti titahNya maupun memang SENGAJA memilh untuk tidak mengikuti titahNya, tetap terliputi oleh RahimNya, kasih sayangNya kepada makhluk yang telah diciptakanNya, dengan tetap diberi kesempatan untuk kembali mendengar petunjuk-petunjukNya. Jika tidak, Tuhanpun tidak akan merasa rugi, kitalah yang rugi, karena sudah ada konsekuensi-konsekuensi logis atas pilihannya itu.

The Supreme Rich will only say, too bad, you (human) do not want to listen to me, who created you, now please enjoy the consequences of what you have chosen in advance, hopefully you will not regret it. This is clearly stated in Surah 29:52, i.e.:

………. And those who believe in Batil (all false deities other than Allah), and disbelieve in Allah and (in His Oneness), it is they who are the losers.

And QS 2:62

Verily! Those who believe and those who are Jews and Christians, and Sabians, whoever believes in Allah and the Last Day and do righteous good deeds shall have their reward with their Lord, on them shall be no fear, nor shall they grieve.

Sang Maha Kaya hanya akan berkata, sayang sekali, kamu tidak mau mendengarkan Saya, yang menciptakanmu, sekarang silahkan menikmati konsekuensi-konsekuensi atas apa yang telah kamu pilih dahulu, mudah-mudahan kamu tidak menyesal. Hal ini secara jelas tercantum dalam QS 29:52, yaitu:

….Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi…

Dan QS 2:62

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

God have nothing to lose, we’re the losers if we do not submit to Hiers commands, we are in need of Him, God, not the opposite.

Tuhan tidak akan rugi, kitalah yang merugi jika kita tidak tunduk akan titahNya, kita yang memerlukan Dia, Tuhan dan bukan sebaliknya.

note:

Photo source: nelsonmemorial.org

Advertisements

3 thoughts on “We need God, not the opposite (Kita memerlukan Tuhan, bukan sebaliknya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s